Setiap memasuki bulan rabi’ul awal, bulan ketiga dalam kalender
Hijriyah, sebagian besar umat muslim di seluruh dunia mengagendakan satu
aktivitas keagamaan yang bernama peringatan maulid nabi Muhammad SAW.
Banyak kegiatan yang sering dilakukan dalam rangka maulid nabi ini
seperti mengadakan pengajian (ceramah), seminar, aksi sosial, kajian
keislaman dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Maulid Nabi
Muhammad SAW diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW,
penutup para Nabi yang paling sempurna dari seluruh mahluk Allah SWT.
dan kekasih Tuhan. Sesungguhnya peringatan ini bukanlah sesuatu yang
dilakukan oleh rasul dan para sahabat ketika itu, melainkan oleh
generasi berikutnya (tabi’in).
Muhammad dilahirkan tepat pada hari
senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah atau bertepatan dengan 22
April tahun 571 Masehi. Nabi Muhammad yang penuh berkah ini dilahirkan
di sebuah kota yang bernama Makkah di jazirah Arabia. Di kota suci
tersebut, terdapat Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, bapak agama
monoteisme (agama yang meyakini satu Tuhan) dan leluhur bangsa Arab
serta Yahudi beserta putranya Ismail a.s..
Jarak waktu yang sangat
panjang antara generasi Ibrahim dengan dilahirkannya Muhammad,
menjadikan masyarakat Arab ketika itu mengalami perubahan keyakinan yang
sangat mencolok. Hal ini dibuktikan dengan kondisi menjelang kelahiran
Muhammad, masyarakat Makah dan Arab pada umumnya berubah menjadi
penganut polytheisme (meyakini beberapa Tuhan), dari yang tadinya
monotheisme (meyakini satu tuhan) sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi
Ibrahim a.s., akibatnya, mereka dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah
(bodoh).
Sebutan kaum jahiliyah ini tidak hanya dalam konteks
ketauhidan kepada Allah saja, namun pada aspek yang lain juga menunjukan
hal yang serupa. Kaum Quraisy, salah satu penduduk asli Makkah, yang
merupakan kelompok bangsawan di kalangan bangsa Arab hanya memiliki 17
orang yang pandai baca tulis. Hal ini menyebabkan mereka sedikit sekali
mengenal ilmu pengetahuan dan kepandaian lainnya. Hidup mereka mengikuti
hawa nafsu, berpecah belah dan saling berperang antara satu suku dengan
suku yang lainnya karena sebab yang sepele, yang kuat menguasai yang
lemah, wanita tidak ada nilainya sebagaimana hukum rimba.(Musyrifah
Sunanto, 2004; 13)
Fakta ini dibenarkan oleh Sayyed Hossen Nasr
(1982) dalam “Muhammad Man of Allah”. Ia mengemukakan bahwa lebih dari
seribu tahun di Arabia, ajaran monoteistik telah ditinggalkan. Mayoritas
bangsa Arab telah jatuh ke dalam jurang kemusyrikan yang paling buruk.
Mereka telah melupakan kebenaran dan tenggelam dalam zaman kejahilan
(jahiliyah) yang menjadi latar belakang lahirnya Islam.
Satu-satunya
pengecualian, di samping sejumlah kecil umat Kristen dan Yahudi yang
berdiam di wilayah jazirah Arabia, adalah terdapat beberapa orang yang
menyendiri dan yang ingat terhadap ajaran asal Nabi Ibrahim, yaitu
orang-orang yang disebut al-Qur’an sebagai kaum hanif atau hunafa.
Dalam
kondisi masyarakat yang demikian, maka lahirlah seorang anak manusia
yang bernama Muhammad yang tidak hanya menjadi nabi dan rasul Allah,
tetapi juga kekasih Allah SWT. dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi,
sebagaimana disebutkan dalam al-Quran (21: 107); ”Dan tidaklah kami utus
Engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam”.
Islam
yang diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad adalah agama yang
membebaskan kaum tertindas, mengangkat derajat orang-orang yang kalah,
dan membebaskan umat manusia dari hegemoni tradisi dan sistem yang
membelenggu. Hal ini karena Muhammad, sang pembawa risalah, adalah nabi
yang lahir dengan spirit atau semangat teologi pembebasan (liberation
theology) berupa tauhid yang hanya meyakini satu tuhan.
Hak asasi
yang dicanangkan oleh rasulullah adalah Hak Asasi Manusia (HAM) yang
bersumber dari wahyu dan memiliki perspektif yang lebih komplek. Ini
berbeda dengan HAM yang sekarang ini dipropagandakan leh ”Barat” yang
mendengungkan HAM tanpa ada ruh keilahiyahan di dalamnya, sehingga lebih
menonjolkan egoisme manusia yang cenderng menuruti nafsunya.
Pada
khutbah Nabi di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah tahun 9 Hijriyah, ketika
wuquf di Arafah, Nabi mengulang kembali pidato tentang hak asasi
manusia itu; ”Hai manusia! masing-masing tuhanmu itu satu, agamamu satu,
nenek moyangmu satu, masing-masing orang diantaramu adalah keturunan
Adam, dan Adam terbuat dari sari pati tanah. Tidak ada keutamaan yang
dimiliki orang-orang Arab melebihi orang ’ajam (orang bukan Arab)
kecuali taqwa.” Demikian yang dikutip oleh Ahmad Syalabi dalam al-Tarikh
al-Islam wa al-Hadlarah al-Islam. Pidato ini merupakan cermin
penghormatan terhadap hak asasi manusia yang luar biasa, yang
membebaskan manusia dari atribut egoisme, gender, dan kebangsaan, tetapi
lebih menekankan pada prestasi manusia.
Ada pendapat yang menarik
dari Thaha Husein, seorang intelektual dari Mesir, berkaitan dengan
teologi pembebasan ini. Thaha menyatakan bahwa andaikan Muhammad hanya
membawa tauhid, tanpa mengajarkan sistem sosial dan ekonomi, tentu
banyak orang Quraisy menyambut seruan Muhammad dengan mudah.
Penolakan
kaum Quraiys adalah karena mereka merasa terancam secara sosial,
politik dan ekonomi dengan kehadiran Islam sebagai agama yang juga
membawa ajaran-ajaran tentang ekonomi, politik,budaya dan tata kelola
kemasyarakatan lainnya.
Muhammad adalah manusia biasa. Namun, karena
perjuangannya melampaui egoisme manusia umumnya, maka Muhammad manusia
pun berubah menjadi Muhammad dengan predikat nabi dan rasul. Proses
itulah yang membutuhkan pengorbanan besar dan perjuangan yang
berdarah-darah. Sehingga, tidak ada umat manusia yang melebihi
penderitaan yang dipikul Nabi Muhammad. Tidak ada kesengsaraan di muka
bumi ini sebagaimana dalam sejarah hidup Muhammad.
Dari pergulatan
sosial dan pergulatan spiritual inilah, kemudian Allah mengangkatnya
menjadi utusan sekaligus pemimpin bagi umat manusia menuju tauhid.
Penghormatan terhadap Nabi Muhammad yang berjuang untuk umat manusia dan
menebar cinta untuk semesta (rahmatan lil ‘alamin) itulah yang
melahirkan peringatan Maulid Nabi.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
pertama kali diperkenalkan pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin
Al-Ayyubi (1138 M-1193 M). Tujuannya adalah membangkitkan kecintaan
kepada Nabi Muhammad SAW. sehingga mampu meningkatkan semangat juang
kaum Muslim saat itu yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan
Pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan Kota Yerusalem yang di
dalamnya ada Masjid al-Aqsha, salah satu tempat yang disucikan oleh umat
Islam. Dan hasilnya Pasukan Muslim berhasil untuk memenangkan
pertempuran dahsyat tersebut.
Dengan memperhatikan perjuangan
Muhammad yang tidak mudah dalam menebar kebaikan di dunia ini, maka
begitu pula yang selayaknya dilakukan oleh umatnya dalam mencapai
cita-cita mulia dalam hidupnya. Sejarah hidup Muhammad sejatinya adalah
sumber inspirasi dan motivasi untuk hidup yang lebih baik.
Sebuah
ayat dalam al-Qur’an patut kita renungkan maknanya: ” Sesungguhnya telah
ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT. (Q.S. Al Ahzab: 21)
Semoga Allah SWT. senantiasa menunjukan jalan terbaik bagi kita untuk dapat meneladani sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.
Sumber Zainalwings@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar