Kamis, 12 Februari 2015

Motivasi Hidup Dari Maulid Nabi

Setiap memasuki bulan rabi’ul awal, bulan ketiga dalam kalender Hijriyah, sebagian besar umat muslim di seluruh dunia mengagendakan satu aktivitas keagamaan yang bernama peringatan maulid nabi Muhammad SAW. Banyak kegiatan yang sering dilakukan dalam rangka maulid nabi ini seperti mengadakan pengajian (ceramah), seminar, aksi sosial, kajian keislaman dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi yang paling sempurna dari seluruh mahluk Allah SWT. dan kekasih Tuhan. Sesungguhnya peringatan ini bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh rasul dan para sahabat ketika itu, melainkan oleh generasi berikutnya (tabi’in).
Muhammad dilahirkan tepat pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah atau bertepatan dengan 22 April tahun 571 Masehi. Nabi Muhammad yang penuh berkah ini dilahirkan di sebuah kota yang bernama Makkah di jazirah Arabia. Di kota suci tersebut, terdapat Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, bapak agama monoteisme (agama yang meyakini satu Tuhan) dan leluhur bangsa Arab serta Yahudi beserta putranya Ismail a.s..
Jarak waktu yang sangat panjang antara generasi Ibrahim dengan dilahirkannya Muhammad, menjadikan masyarakat Arab ketika itu mengalami perubahan keyakinan yang sangat mencolok. Hal ini dibuktikan dengan kondisi menjelang kelahiran Muhammad, masyarakat Makah dan Arab pada umumnya berubah menjadi penganut polytheisme (meyakini beberapa Tuhan), dari yang tadinya monotheisme (meyakini satu tuhan) sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim a.s., akibatnya, mereka dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah (bodoh).
Sebutan kaum jahiliyah ini tidak hanya dalam konteks ketauhidan kepada Allah saja, namun pada aspek yang lain juga menunjukan hal yang serupa. Kaum Quraisy, salah satu penduduk asli Makkah, yang merupakan kelompok bangsawan di kalangan bangsa Arab hanya memiliki 17 orang yang pandai baca tulis. Hal ini menyebabkan mereka sedikit sekali mengenal ilmu pengetahuan dan kepandaian lainnya. Hidup mereka mengikuti hawa nafsu, berpecah belah dan saling berperang antara satu suku dengan suku yang lainnya karena sebab yang sepele, yang kuat menguasai yang lemah, wanita tidak ada nilainya sebagaimana hukum rimba.(Musyrifah Sunanto, 2004; 13)
Fakta ini dibenarkan oleh Sayyed Hossen Nasr (1982) dalam “Muhammad Man of Allah”. Ia mengemukakan bahwa lebih dari seribu tahun di Arabia, ajaran monoteistik telah ditinggalkan. Mayoritas bangsa Arab telah jatuh ke dalam jurang kemusyrikan yang paling buruk. Mereka telah melupakan kebenaran dan tenggelam dalam zaman kejahilan (jahiliyah) yang menjadi latar belakang lahirnya Islam.
Satu-satunya pengecualian, di samping sejumlah kecil umat Kristen dan Yahudi yang berdiam di wilayah jazirah Arabia, adalah terdapat beberapa orang yang menyendiri dan yang ingat terhadap ajaran asal Nabi Ibrahim, yaitu orang-orang yang disebut al-Qur’an sebagai kaum hanif atau hunafa.
Dalam kondisi masyarakat yang demikian, maka lahirlah seorang anak manusia yang bernama Muhammad yang tidak hanya menjadi nabi dan rasul Allah, tetapi juga kekasih Allah SWT. dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran (21: 107); ”Dan tidaklah kami utus Engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam”.
Islam yang diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad adalah agama yang membebaskan kaum tertindas, mengangkat derajat orang-orang yang kalah, dan membebaskan umat manusia dari hegemoni tradisi dan sistem yang membelenggu. Hal ini karena Muhammad, sang pembawa risalah, adalah nabi yang lahir dengan spirit atau semangat teologi pembebasan (liberation theology) berupa tauhid yang hanya meyakini satu tuhan.
Hak asasi yang dicanangkan oleh rasulullah adalah Hak Asasi Manusia (HAM) yang bersumber dari wahyu dan memiliki perspektif yang lebih komplek. Ini berbeda dengan HAM yang sekarang ini dipropagandakan leh ”Barat” yang mendengungkan HAM tanpa ada ruh keilahiyahan di dalamnya, sehingga lebih menonjolkan egoisme manusia yang cenderng menuruti nafsunya.
Pada khutbah Nabi di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah tahun 9 Hijriyah, ketika wuquf di Arafah, Nabi mengulang kembali pidato tentang hak asasi manusia itu; ”Hai manusia! masing-masing tuhanmu itu satu, agamamu satu, nenek moyangmu satu, masing-masing orang diantaramu adalah keturunan Adam, dan Adam terbuat dari sari pati tanah. Tidak ada keutamaan yang dimiliki orang-orang Arab melebihi orang ’ajam (orang bukan Arab) kecuali taqwa.” Demikian yang dikutip oleh Ahmad Syalabi dalam al-Tarikh al-Islam wa al-Hadlarah al-Islam. Pidato ini merupakan cermin penghormatan terhadap hak asasi manusia yang luar biasa, yang membebaskan manusia dari atribut egoisme, gender, dan kebangsaan, tetapi lebih menekankan pada prestasi manusia.
Ada pendapat yang menarik dari Thaha Husein, seorang intelektual dari Mesir, berkaitan dengan teologi pembebasan ini. Thaha menyatakan bahwa andaikan Muhammad hanya membawa tauhid, tanpa mengajarkan sistem sosial dan ekonomi, tentu banyak orang Quraisy menyambut seruan Muhammad dengan mudah.
Penolakan kaum Quraiys adalah karena mereka merasa terancam secara sosial, politik dan ekonomi dengan kehadiran Islam sebagai agama yang juga membawa ajaran-ajaran tentang ekonomi, politik,budaya dan tata kelola kemasyarakatan lainnya.
Muhammad adalah manusia biasa. Namun, karena perjuangannya melampaui egoisme manusia umumnya, maka Muhammad manusia pun berubah menjadi Muhammad dengan predikat nabi dan rasul. Proses itulah yang membutuhkan pengorbanan besar dan perjuangan yang berdarah-darah. Sehingga, tidak ada umat manusia yang melebihi penderitaan yang dipikul Nabi Muhammad. Tidak ada kesengsaraan di muka bumi ini sebagaimana dalam sejarah hidup Muhammad.
Dari pergulatan sosial dan pergulatan spiritual inilah, kemudian Allah mengangkatnya menjadi utusan sekaligus pemimpin bagi umat manusia menuju tauhid. Penghormatan terhadap Nabi Muhammad yang berjuang untuk umat manusia dan menebar cinta untuk semesta (rahmatan lil ‘alamin) itulah yang melahirkan peringatan Maulid Nabi.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. pertama kali diperkenalkan pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138 M-1193 M). Tujuannya adalah membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. sehingga mampu meningkatkan semangat juang kaum Muslim saat itu yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan Pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan Kota Yerusalem yang di dalamnya ada Masjid al-Aqsha, salah satu tempat yang disucikan oleh umat Islam. Dan hasilnya Pasukan Muslim berhasil untuk memenangkan pertempuran dahsyat tersebut.
Dengan memperhatikan perjuangan Muhammad yang tidak mudah dalam menebar kebaikan di dunia ini, maka begitu pula yang selayaknya dilakukan oleh umatnya dalam mencapai cita-cita mulia dalam hidupnya. Sejarah hidup Muhammad sejatinya adalah sumber inspirasi dan motivasi untuk hidup yang lebih baik.
Sebuah ayat dalam al-Qur’an patut kita renungkan maknanya: ” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT. (Q.S. Al Ahzab: 21)
Semoga Allah SWT. senantiasa menunjukan jalan terbaik bagi kita untuk dapat meneladani sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.

Sumber Zainalwings@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar