Mengenyam pendidikan pada institusi pendidikan formal yang diakui oleh
lembaga pendidikan negara adalah sesuatu yang wajib dilakukan di
Indonesia. Mulai dari anak tukang sapu jalan, anak tukang dagang
martabak mesir, anak tukang jambret, anak pak tani, anak bisnismen, anak
pejabat tinggi negara, dan sebagainya harus bersekolah minimal selama 9
tahun lamanya hingga lulus SMP.
Mungkin banyak dari kita yang mempertanyakan apakah sebenarnya fungsi
pendidikan formal tersebut. Situs organisasi.org ini akan membantu
memberikan sedikit jawaban sesuai dengan kondisi yang ada. Kenapa kita
harus sekolah dan mengapa semakin tinggi jenjang pendidikan kita maka
semakin baik?
Manfaat dan Fungsi Belajar di Sekolah dan di Perguruan Tinggi :
1. Melatih Kemampuan Kemampuan Akademis Anak (Biar Pintar)
Dengan melatih serta mengasah kemampuan menghafal, menganalisa,
memecahkan masalah, logika, dan lain sebagainya maka diharapkan
seseorang akan memiliki kemampuan akademis yang baik. Orang yang tidak
sekolah biasanya tidak memiliki kemampuan akademis yang baik sehingga
dapat dibedakan dengan orang yang bersekolah. Kehidupan yang ada di
masa depan tidaklah semudah dan seindah saat ini karena dibutuhkan
perjuangan dan kerja keras serta banyak ilmu pengetahuan.
2. Menggembleng dan Memperkuat Mental, Fisik dan Disiplin
Dengan mengharuskan seorang siswa atau mahasiswa datang dan pulang
sesuai dengan aturan yang berlaku maka secara tidak langsung dapat
meningkatkan kedisiplinan seseorang. Dengan begitu padatnya jadwal
sekolah yang memaksa seorang siswa untuk belajar secara terus-menerus
akan menguatkan mental dan fisik seseorang menjadi lebih baik.
3. Memperkenalkan Tanggung Jawab
Tanggung jawab seorang anak adalah belajar di mana orangtua atau wali
yang memberi nafkah. Seorang anak yang menjalankan tugas dan
kewajibannya dengan baik dengan bersekolah yang rajin akan membuat
bangga orang tua, guru, saudara, famili, dan lain-lain.
4. Membangun Jiwa Sosial dan Jaringan Pertemanan
Banyaknya teman yang bersekolah bersama akan memperluas hubungan sosial
seorang siswa. Tidak menutup kemungkinan di masa depan akan membentuk
jaringan bisnis dengan sesama teman di mana di antara sesamanya sudah
saling kenal dan percaya. Dengan memiliki teman maka kebutuhan sosial
yang merupakan kebutuhan dasar manusia dapat terpenuhi dengan baik.
5. Sebagai Identitas Diri
Lulus dari sebuah institusi pendidikan biasanya akan menerima suatu
sertifikat atau ijazah khusus yang mengakui bahwa kita adalah orang yang
terpelajar, memiliki kualitas yang baik dan dapat diandalkan. Jika
disandingkan dengan orang yang tidak berpendidikan dalam suatu lowongan
pekerjaan kantor, maka rata-rata yang terpelajarlah yang akam
mendapatkan pekerjaan tersebut.
6. Sarana Mengembangkan Diri dan Berkreativitas
Seorang siswa dapat mengikuti berbagai program ekstrakurikuler sebagai
pelengkap kegiatan akademis belajar mengajar agar dapat mengembangkan
bakat dan minat dalam diri seseorang. Semakin banyak memiliki keahlian
dan daya kreativitas maka akan semakin baik pula kualitas seseorang.
Sekolah dan kuliah hanyalah sebagai suatu mediator atau perangkat
pengembangan diri. Yang mengubah diri seseorang adalah hanyalah orang
itu sendiri.
----
Memang proses belajar manusia sangat lama dan panjang. Bayangkan saja
jika sekolah dasar (SD) memakan waktu 6 tahun, sekolah menengah pertama
dan sekolah menengah atas selama 6 tahun, di perguruan tinggi selama 4
tahun makan waktu yang diperlukan untuk meraih gelar sarjana yaitu
sekitar kurang lebih 16 tahun.
Sumber Zainalwings@gmail.com
Kamis, 12 Februari 2015
Contoh dan Cara Membuat Surat Lamaran Kerja Yang Baik
Contoh dan Cara Membuat Surat Lamaran Kerja Yang Baik -
Beberapa orang masih banyak yang kebingungan dan tidak tahu sama sekali
cara menulis surat lamaran kerja yang baik itu bagaimana. Terutama bagi
yang baru lulus SMA ataupun SMK ajaran tahun ini. Jika Anda termasuk
salah satunya, Anda tidak usah gelisah karena kali ini saya akan
memberikan contoh surat lamaran kerja yang baik dan benar.
Sebelum melihat contohnya alangkah baiknya Anda perhatikan terlebih dahulu cara penulisan surat lamaran kerja yang benar. Berikut ini adalah beberapa susunan penulisan surat lamaran kerja yang benar:
Sebelum melihat contohnya alangkah baiknya Anda perhatikan terlebih dahulu cara penulisan surat lamaran kerja yang benar. Berikut ini adalah beberapa susunan penulisan surat lamaran kerja yang benar:
- Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
- Struktur surat lamaran kerja.
- Singkat, padat, informatif dan tepat sasaran.
- Beri tanda tangan pada surat lamaran kerja Anda.
- Surat lamaran kerja harus bersih dan rapi.
- Diatas adalah beberapa point penting untuk menulis surat lamaran kerja
dan dibawah ini adalah contoh surat lamaran kerja yang dapat Anda
jadikan sebagai sumber referensi dan inspirasi. Silahkan Anda pahami
struktur contoh surat lamaran pekerjaan dibawah ini.
Contoh Surat Lamaran Kerja Yang Baik Dan Benar
Sumber Zainalwings@gmail.comMadiun, 12 Februari 2015KEPADA:
Yth. Bapak/Ibu Bag. Personalia
PT. UNTUNG SEJAHTERA
Jl. Indahnya 1 Blok AA kawasan industri, Jawa Barat 17730
Dengan hormat,
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya
Nama:
Tempat/tgl lahir:
Warga negara:
Agama:
Alamat sekarang:
No. Tlp:
Bersama ini saya mengajukan lamaran kerja melalui perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin. Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan persyaratan berikut ini:
- Pas photo warna 4x6 2 lembar
- Foto copy KTP
- Foto copy Ijazah
- Foto copy SKHUN
- Foto copy Trankrip nilai
- Foto copy kartu kuning
- Foto copy SKCK
- Foto copy sertifikat-sertifikat (PKL DLL kalau punya)
- Foto copy akta kelahiran
- Daftar riwayat hidup
Demikian surat lamaran ini saya buat, besar harapan saya untuk diterima di perusahaan Bapak/Ibu. Atas perhatiannya, kebijaksanaan dan dikabulkan permohonan ini saya ucapkan terima kasih.
Motivasi Hidup Dari Maulid Nabi
Setiap memasuki bulan rabi’ul awal, bulan ketiga dalam kalender
Hijriyah, sebagian besar umat muslim di seluruh dunia mengagendakan satu
aktivitas keagamaan yang bernama peringatan maulid nabi Muhammad SAW.
Banyak kegiatan yang sering dilakukan dalam rangka maulid nabi ini
seperti mengadakan pengajian (ceramah), seminar, aksi sosial, kajian
keislaman dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.
Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi yang paling sempurna dari seluruh mahluk Allah SWT. dan kekasih Tuhan. Sesungguhnya peringatan ini bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh rasul dan para sahabat ketika itu, melainkan oleh generasi berikutnya (tabi’in).
Muhammad dilahirkan tepat pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah atau bertepatan dengan 22 April tahun 571 Masehi. Nabi Muhammad yang penuh berkah ini dilahirkan di sebuah kota yang bernama Makkah di jazirah Arabia. Di kota suci tersebut, terdapat Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, bapak agama monoteisme (agama yang meyakini satu Tuhan) dan leluhur bangsa Arab serta Yahudi beserta putranya Ismail a.s..
Jarak waktu yang sangat panjang antara generasi Ibrahim dengan dilahirkannya Muhammad, menjadikan masyarakat Arab ketika itu mengalami perubahan keyakinan yang sangat mencolok. Hal ini dibuktikan dengan kondisi menjelang kelahiran Muhammad, masyarakat Makah dan Arab pada umumnya berubah menjadi penganut polytheisme (meyakini beberapa Tuhan), dari yang tadinya monotheisme (meyakini satu tuhan) sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim a.s., akibatnya, mereka dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah (bodoh).
Sebutan kaum jahiliyah ini tidak hanya dalam konteks ketauhidan kepada Allah saja, namun pada aspek yang lain juga menunjukan hal yang serupa. Kaum Quraisy, salah satu penduduk asli Makkah, yang merupakan kelompok bangsawan di kalangan bangsa Arab hanya memiliki 17 orang yang pandai baca tulis. Hal ini menyebabkan mereka sedikit sekali mengenal ilmu pengetahuan dan kepandaian lainnya. Hidup mereka mengikuti hawa nafsu, berpecah belah dan saling berperang antara satu suku dengan suku yang lainnya karena sebab yang sepele, yang kuat menguasai yang lemah, wanita tidak ada nilainya sebagaimana hukum rimba.(Musyrifah Sunanto, 2004; 13)
Fakta ini dibenarkan oleh Sayyed Hossen Nasr (1982) dalam “Muhammad Man of Allah”. Ia mengemukakan bahwa lebih dari seribu tahun di Arabia, ajaran monoteistik telah ditinggalkan. Mayoritas bangsa Arab telah jatuh ke dalam jurang kemusyrikan yang paling buruk. Mereka telah melupakan kebenaran dan tenggelam dalam zaman kejahilan (jahiliyah) yang menjadi latar belakang lahirnya Islam.
Satu-satunya pengecualian, di samping sejumlah kecil umat Kristen dan Yahudi yang berdiam di wilayah jazirah Arabia, adalah terdapat beberapa orang yang menyendiri dan yang ingat terhadap ajaran asal Nabi Ibrahim, yaitu orang-orang yang disebut al-Qur’an sebagai kaum hanif atau hunafa.
Dalam kondisi masyarakat yang demikian, maka lahirlah seorang anak manusia yang bernama Muhammad yang tidak hanya menjadi nabi dan rasul Allah, tetapi juga kekasih Allah SWT. dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran (21: 107); ”Dan tidaklah kami utus Engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam”.
Islam yang diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad adalah agama yang membebaskan kaum tertindas, mengangkat derajat orang-orang yang kalah, dan membebaskan umat manusia dari hegemoni tradisi dan sistem yang membelenggu. Hal ini karena Muhammad, sang pembawa risalah, adalah nabi yang lahir dengan spirit atau semangat teologi pembebasan (liberation theology) berupa tauhid yang hanya meyakini satu tuhan.
Hak asasi yang dicanangkan oleh rasulullah adalah Hak Asasi Manusia (HAM) yang bersumber dari wahyu dan memiliki perspektif yang lebih komplek. Ini berbeda dengan HAM yang sekarang ini dipropagandakan leh ”Barat” yang mendengungkan HAM tanpa ada ruh keilahiyahan di dalamnya, sehingga lebih menonjolkan egoisme manusia yang cenderng menuruti nafsunya.
Pada khutbah Nabi di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah tahun 9 Hijriyah, ketika wuquf di Arafah, Nabi mengulang kembali pidato tentang hak asasi manusia itu; ”Hai manusia! masing-masing tuhanmu itu satu, agamamu satu, nenek moyangmu satu, masing-masing orang diantaramu adalah keturunan Adam, dan Adam terbuat dari sari pati tanah. Tidak ada keutamaan yang dimiliki orang-orang Arab melebihi orang ’ajam (orang bukan Arab) kecuali taqwa.” Demikian yang dikutip oleh Ahmad Syalabi dalam al-Tarikh al-Islam wa al-Hadlarah al-Islam. Pidato ini merupakan cermin penghormatan terhadap hak asasi manusia yang luar biasa, yang membebaskan manusia dari atribut egoisme, gender, dan kebangsaan, tetapi lebih menekankan pada prestasi manusia.
Ada pendapat yang menarik dari Thaha Husein, seorang intelektual dari Mesir, berkaitan dengan teologi pembebasan ini. Thaha menyatakan bahwa andaikan Muhammad hanya membawa tauhid, tanpa mengajarkan sistem sosial dan ekonomi, tentu banyak orang Quraisy menyambut seruan Muhammad dengan mudah.
Penolakan kaum Quraiys adalah karena mereka merasa terancam secara sosial, politik dan ekonomi dengan kehadiran Islam sebagai agama yang juga membawa ajaran-ajaran tentang ekonomi, politik,budaya dan tata kelola kemasyarakatan lainnya.
Muhammad adalah manusia biasa. Namun, karena perjuangannya melampaui egoisme manusia umumnya, maka Muhammad manusia pun berubah menjadi Muhammad dengan predikat nabi dan rasul. Proses itulah yang membutuhkan pengorbanan besar dan perjuangan yang berdarah-darah. Sehingga, tidak ada umat manusia yang melebihi penderitaan yang dipikul Nabi Muhammad. Tidak ada kesengsaraan di muka bumi ini sebagaimana dalam sejarah hidup Muhammad.
Dari pergulatan sosial dan pergulatan spiritual inilah, kemudian Allah mengangkatnya menjadi utusan sekaligus pemimpin bagi umat manusia menuju tauhid. Penghormatan terhadap Nabi Muhammad yang berjuang untuk umat manusia dan menebar cinta untuk semesta (rahmatan lil ‘alamin) itulah yang melahirkan peringatan Maulid Nabi.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. pertama kali diperkenalkan pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138 M-1193 M). Tujuannya adalah membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. sehingga mampu meningkatkan semangat juang kaum Muslim saat itu yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan Pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan Kota Yerusalem yang di dalamnya ada Masjid al-Aqsha, salah satu tempat yang disucikan oleh umat Islam. Dan hasilnya Pasukan Muslim berhasil untuk memenangkan pertempuran dahsyat tersebut.
Dengan memperhatikan perjuangan Muhammad yang tidak mudah dalam menebar kebaikan di dunia ini, maka begitu pula yang selayaknya dilakukan oleh umatnya dalam mencapai cita-cita mulia dalam hidupnya. Sejarah hidup Muhammad sejatinya adalah sumber inspirasi dan motivasi untuk hidup yang lebih baik.
Sebuah ayat dalam al-Qur’an patut kita renungkan maknanya: ” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT. (Q.S. Al Ahzab: 21)
Semoga Allah SWT. senantiasa menunjukan jalan terbaik bagi kita untuk dapat meneladani sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.
Sumber Zainalwings@gmail.com
Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, penutup para Nabi yang paling sempurna dari seluruh mahluk Allah SWT. dan kekasih Tuhan. Sesungguhnya peringatan ini bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh rasul dan para sahabat ketika itu, melainkan oleh generasi berikutnya (tabi’in).
Muhammad dilahirkan tepat pada hari senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahun Gajah atau bertepatan dengan 22 April tahun 571 Masehi. Nabi Muhammad yang penuh berkah ini dilahirkan di sebuah kota yang bernama Makkah di jazirah Arabia. Di kota suci tersebut, terdapat Ka’bah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, bapak agama monoteisme (agama yang meyakini satu Tuhan) dan leluhur bangsa Arab serta Yahudi beserta putranya Ismail a.s..
Jarak waktu yang sangat panjang antara generasi Ibrahim dengan dilahirkannya Muhammad, menjadikan masyarakat Arab ketika itu mengalami perubahan keyakinan yang sangat mencolok. Hal ini dibuktikan dengan kondisi menjelang kelahiran Muhammad, masyarakat Makah dan Arab pada umumnya berubah menjadi penganut polytheisme (meyakini beberapa Tuhan), dari yang tadinya monotheisme (meyakini satu tuhan) sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim a.s., akibatnya, mereka dijuluki sebagai masyarakat jahiliyah (bodoh).
Sebutan kaum jahiliyah ini tidak hanya dalam konteks ketauhidan kepada Allah saja, namun pada aspek yang lain juga menunjukan hal yang serupa. Kaum Quraisy, salah satu penduduk asli Makkah, yang merupakan kelompok bangsawan di kalangan bangsa Arab hanya memiliki 17 orang yang pandai baca tulis. Hal ini menyebabkan mereka sedikit sekali mengenal ilmu pengetahuan dan kepandaian lainnya. Hidup mereka mengikuti hawa nafsu, berpecah belah dan saling berperang antara satu suku dengan suku yang lainnya karena sebab yang sepele, yang kuat menguasai yang lemah, wanita tidak ada nilainya sebagaimana hukum rimba.(Musyrifah Sunanto, 2004; 13)
Fakta ini dibenarkan oleh Sayyed Hossen Nasr (1982) dalam “Muhammad Man of Allah”. Ia mengemukakan bahwa lebih dari seribu tahun di Arabia, ajaran monoteistik telah ditinggalkan. Mayoritas bangsa Arab telah jatuh ke dalam jurang kemusyrikan yang paling buruk. Mereka telah melupakan kebenaran dan tenggelam dalam zaman kejahilan (jahiliyah) yang menjadi latar belakang lahirnya Islam.
Satu-satunya pengecualian, di samping sejumlah kecil umat Kristen dan Yahudi yang berdiam di wilayah jazirah Arabia, adalah terdapat beberapa orang yang menyendiri dan yang ingat terhadap ajaran asal Nabi Ibrahim, yaitu orang-orang yang disebut al-Qur’an sebagai kaum hanif atau hunafa.
Dalam kondisi masyarakat yang demikian, maka lahirlah seorang anak manusia yang bernama Muhammad yang tidak hanya menjadi nabi dan rasul Allah, tetapi juga kekasih Allah SWT. dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi, sebagaimana disebutkan dalam al-Quran (21: 107); ”Dan tidaklah kami utus Engkau (Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam”.
Islam yang diturunkan Allah melalui Rasulullah Muhammad adalah agama yang membebaskan kaum tertindas, mengangkat derajat orang-orang yang kalah, dan membebaskan umat manusia dari hegemoni tradisi dan sistem yang membelenggu. Hal ini karena Muhammad, sang pembawa risalah, adalah nabi yang lahir dengan spirit atau semangat teologi pembebasan (liberation theology) berupa tauhid yang hanya meyakini satu tuhan.
Hak asasi yang dicanangkan oleh rasulullah adalah Hak Asasi Manusia (HAM) yang bersumber dari wahyu dan memiliki perspektif yang lebih komplek. Ini berbeda dengan HAM yang sekarang ini dipropagandakan leh ”Barat” yang mendengungkan HAM tanpa ada ruh keilahiyahan di dalamnya, sehingga lebih menonjolkan egoisme manusia yang cenderng menuruti nafsunya.
Pada khutbah Nabi di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah tahun 9 Hijriyah, ketika wuquf di Arafah, Nabi mengulang kembali pidato tentang hak asasi manusia itu; ”Hai manusia! masing-masing tuhanmu itu satu, agamamu satu, nenek moyangmu satu, masing-masing orang diantaramu adalah keturunan Adam, dan Adam terbuat dari sari pati tanah. Tidak ada keutamaan yang dimiliki orang-orang Arab melebihi orang ’ajam (orang bukan Arab) kecuali taqwa.” Demikian yang dikutip oleh Ahmad Syalabi dalam al-Tarikh al-Islam wa al-Hadlarah al-Islam. Pidato ini merupakan cermin penghormatan terhadap hak asasi manusia yang luar biasa, yang membebaskan manusia dari atribut egoisme, gender, dan kebangsaan, tetapi lebih menekankan pada prestasi manusia.
Ada pendapat yang menarik dari Thaha Husein, seorang intelektual dari Mesir, berkaitan dengan teologi pembebasan ini. Thaha menyatakan bahwa andaikan Muhammad hanya membawa tauhid, tanpa mengajarkan sistem sosial dan ekonomi, tentu banyak orang Quraisy menyambut seruan Muhammad dengan mudah.
Penolakan kaum Quraiys adalah karena mereka merasa terancam secara sosial, politik dan ekonomi dengan kehadiran Islam sebagai agama yang juga membawa ajaran-ajaran tentang ekonomi, politik,budaya dan tata kelola kemasyarakatan lainnya.
Muhammad adalah manusia biasa. Namun, karena perjuangannya melampaui egoisme manusia umumnya, maka Muhammad manusia pun berubah menjadi Muhammad dengan predikat nabi dan rasul. Proses itulah yang membutuhkan pengorbanan besar dan perjuangan yang berdarah-darah. Sehingga, tidak ada umat manusia yang melebihi penderitaan yang dipikul Nabi Muhammad. Tidak ada kesengsaraan di muka bumi ini sebagaimana dalam sejarah hidup Muhammad.
Dari pergulatan sosial dan pergulatan spiritual inilah, kemudian Allah mengangkatnya menjadi utusan sekaligus pemimpin bagi umat manusia menuju tauhid. Penghormatan terhadap Nabi Muhammad yang berjuang untuk umat manusia dan menebar cinta untuk semesta (rahmatan lil ‘alamin) itulah yang melahirkan peringatan Maulid Nabi.
Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. pertama kali diperkenalkan pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138 M-1193 M). Tujuannya adalah membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. sehingga mampu meningkatkan semangat juang kaum Muslim saat itu yang sedang terlibat dalam Perang Salib melawan Pasukan Kristen Eropa dalam upaya memperebutkan Kota Yerusalem yang di dalamnya ada Masjid al-Aqsha, salah satu tempat yang disucikan oleh umat Islam. Dan hasilnya Pasukan Muslim berhasil untuk memenangkan pertempuran dahsyat tersebut.
Dengan memperhatikan perjuangan Muhammad yang tidak mudah dalam menebar kebaikan di dunia ini, maka begitu pula yang selayaknya dilakukan oleh umatnya dalam mencapai cita-cita mulia dalam hidupnya. Sejarah hidup Muhammad sejatinya adalah sumber inspirasi dan motivasi untuk hidup yang lebih baik.
Sebuah ayat dalam al-Qur’an patut kita renungkan maknanya: ” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah SAW itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah SWT. (Q.S. Al Ahzab: 21)
Semoga Allah SWT. senantiasa menunjukan jalan terbaik bagi kita untuk dapat meneladani sejarah hidup Nabi Muhammad SAW.
Sumber Zainalwings@gmail.com
Langganan:
Postingan (Atom)